Selamat Datang di Website MKB
Susunan Redaksi Majalah Kedokteran Bandung PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 16 December 2008 06:01
PelindungDekan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
PenasehatPembantu Dekan II
  
DEWAN REDAKSI
Penanggung Jawab Prof. Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.OG(K)
Ketua Redaksi
Prof. dr. Herry Garna, Ph.D., Sp.A(K)
Sekretaris Redaksi
Dr. dr. Budi Setiabudiawan, Sp.A(K)., Mkes
Anggota Redaksi
Prof. Dr. dr. Dany Hilmanto, Sp.A(K)
Dr. dr. Sri Endah Rahayuningsih, Sp.A(K)
dr. Leri Septiani, Ph.D
Dr. dr. Henni Djuhaeni, MARS 
Dr. med. dr. Setiawan
Prof. Dr. Dudih A. Zuhud, Dipl.TEFL., MA
Sekretariat

Lala Adilla Nur, Am.D
Dwi Andini, Am.K
Ede Sasmita, ST
Indrianti Am.D

Last Updated on Monday, 19 April 2010 03:10
 
Anterior Transpetrosal Untuk Lesi pada Fosa Kranialis Media dan Posterior: Review Literatur dan Diseksi Kadaver PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 11 August 2010 02:03
Muhammad Zafrullah Arifin,1 Agung Budi Sutiono,1,3 Ahmad Faried,1,2 
Takeshi Kawase,Beny Atmadja Wirjomartani,1 Kahdar Wiriadisastra1
1Department of Neurosurgery, Universitas Padjadjaran, Hasan Sadikin Hospital, Bandung, Indonesia
2Department of Neurosurgery, Gunma University Hospital, Gunma, Japan
3Department of Neurosurgery, Keio University Hospital, Tokyo, Japan


Abstrak

Reseksi selektif pada bagian anterior piramid os petrosus (segitiga Kawase), dengan terlebih dahulu melakukan kraniotomi pada dinding lateral fosa kranialis media, dapat memberikan lapang pandang bedah yang cukup luas dari parasellar, clivus dan cerebellopontine angle (CPA), tanpa mengorbankan struktur organ pendengaran dalam (internal acoustics organ). Keuntungan utama teknik anterior transpetrosal ini adalah dapat langsung mengakses tumor yang melekat pada klivus melalui rongga kecil yang dibuat pada apeks os petrosus. Pengangkatan tumor dengan perdarahan yang minimal dapat dicapai dengan melakukan koagulasi pada arteri tentorium dan akses langsung ke arah anterior kanalis auditorius internus, juga dapat mengurangi cedera pada nervus fasialis dan vestibulokoklearis. Keuntungan lainnya, yaitu, rendahnya risiko komplikasi perdarahan vena, karena teknik ini tidak mengekspos sinus sigmoid ataupun vena Labbe. [MKB.  2010;42(2):86-91].

Kata kunci: Anterior transpetrosal, fosa media dan posterior, diseksi kadaver 


Anterior Transpetrosal for Lession in Middle and Posterior Fossa: Literature Review and Cadaver Dissection


Abstract

Resection of the anterior part of pyramid through the middle fossa craniotomy will give us a surgical field of the parasellar, clivus and cerebellopontine angle without sacrificing the auditory structure. The advantage of the anterior transpetrosal approach is the direct access to tumors that attached to the clivus via a keyhole created on the petrosus apex. Bloodless tumor removal can be achieved by detachment of the tentorial artery and direct access of the anterior internal auditory canal also can minimize the injury of the cranial nerve facialis and vestibulocochlearis. Another advantage is the low risk of venous damages since this approach is not exposing the sigmoid sinus and the vein of Labbe.  [MKB.  2010;42(2):86-91].

Key words: Anterior transpetrosal, middle and posterior fossa, cadaver dissection
 
Perbandingan Pemberian Topikal Aqueous Leaf Extract of Carica Papaya (ALEC) dan Madu Khaula Terhadap Percepatan Penyembuhan Luka Sayat pada Kulit Mencit (Mus musculus) PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 11 August 2010 02:01
Januarsih Iwan A.R, Nur Atik
Bagian Histologi
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung


Abstrak

Madu dan pepaya telah lama dipercaya oleh masyarakat kita memiliki efek penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan percepatan penyembuhan luka sayat yang diberikan Aqueous Leaf Extract of Carica Papaya (ALEC) dengan madu Khaula. Penelitian dilakukan pada periode November 2006-April 2007 di Laboratorium Bagian Histologi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung. Subjek penelitian eksperimental ini berupa mencit jantan galur ddy dibagi dalam 3 kelompok (setiap kelompok terdiri dari 9 mencit), kelompok gel solcoseryl sebagai kontrol standar, ALEC 10% dalam vaselin dan madu 1,0 g sebagai kelompok perlakuan. Mencit dibuat luka sayat pada daerah punggung kemudian diberikan pengobatan topikal sesuai dengan kelompoknya. Untuk melihat perubahan histologi kulit mencit dikorbankan pada hari ke-4, ke-7, dan ke-10 setelah perlukaan. Data berupa gambaran histologi kulit berdasarkan regenerasi epidermis, ketebalan granulasi jaringan dan angiogenesis, kemudian dianalisis menggunakan uji parametric independent T-test dengan nilai p< 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan bermakna antara kelompok kontrol dan ALEC 10% dalam vaselin melalui  tiga parameter di atas. Perbandingan antara kelompok kontrol dan madu Khaula menunjukkan perbedaan hanya pada regenerasi epidermis dan angiogenesis. Penggunaan ALEC 10% dalam vaselin dan penggunaan madu Khaula pada luka menunjukkan perbedaan bermakna pada regenerasi epidermis (rata-rata 2,19 (0,81) untuk ALEC 10% dan 2,67 (0,67) untuk kelompok madu, nilai p < 0,001) dan ketebalan jaringan granulasi (rata-rata 2,99 (0,94) untuk ALEC 10% dan 3,23 (0,99) untuk kelompok madu, nilai p 0,038). Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan antara ALEC dan madu Khaula dalam percepatan penyembuhan luka, khususnya percepatan regenerasi epidermis dan granulasi jaringan. [MKB.  2010;42(2):76-81].

Kata kunci: Penyembuhan luka, carica papaya, madu Khaula


The Comparation Between Topical Aplication of the Aqueous Leaf Extract of Carica Papaya (ALEC) & Khaula Honey in Accelerating Skin Wound Healing in Mice


Abstract

Topical application of papaya  and honey has been hypothesized to accelerate skin wound healing. The purpose of this research was to evaluate the differences between topical application of the ALEC and Khaula Honey in accelerating skin wound healing in mice. The experiment took place in Histology Laboratory, School of Medicine, Padjadjaran University, Bandung, November 2006-April 2007.The prospective experimental method was held in 10 days. Subjects were male ddy mice divided into 3 groups (each consisted of 9 mices), which were control group solcoseryl jelly, 10% ALEC in vaseline and 1.0 g Khaula honey treated group. The comparisons in accelerating skin wound healing were investigated by using full thickness skin wound model produced on the back of the mice. Solcoseryl jelly was applied topically to wound of group 1, group 2 and group 3 mice were treated topically with 10% ALEC in vaseline and Khaula honey, respectively. The mice were sacrificed on 4th, 7th, and 10th day of post wounding for evaluating the histological changes. Data was obtained by microscopically analysis of the skin based on the epidermal regeneration, granulation tissues thickness and angiogenesis and then analyzed by using parametric independent T-test. The level for statistical significant was set p < 0.05. The result of this experiment showed that there were significant difference between control group and ALEC10% in vaseline in three mentioned above. Comparison between control and  Khaula honey showed differences only in epidermal regeneration and  angiogenesis. Wound treated with ALEC 10% in vaseline and Khaula honey group showed significantly difference in epidermal regeneration (mean 2.19 (0.81) for ALEC 10% and 2.67 (0.67) for honey group, p value < 0.001) and granulation tissues thickness (mean 2.99 (0.94) for ALEC 10% and 3.23 (0.99) for honey group, p value 0.038). These result documented the differences of ALEC and Khaula honey for the acceleration of wound healing process in full thickness skin wound especially in epidermal regeneration and granulation tissues thickness. 
[MKB.  2010;42(2):76-81].

Key words: Wound healing, Carica papaya, Khaula honey
 
Demografi Diabetes Melitus Tipe-I pada Anggota Ikatan Keluarga Penyandang Diabetes Anak dan Remaja (IKADAR) PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 11 August 2010 02:02
Endang Triningsih Faisal
Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Kelompok Kerja Endokrinologi Anak 
Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, Jakarta


Abstrak

Diabetes melitus (DM) tipe-1 merupakan penyakit kronik karena ketergantungan insulin dari luar tubuh. Dalam pengobatan penyakit tipe ini perlu pegawasan yang ketat dan membutuhkan kesadaran dan pengertian pasien dan orangtua. Ikatan Keluarga Penyandang Diabetes Anak dan Remaja (IKADAR) merupakan perkumpulan anggota pasien DM, sehingga dapat saling membantu. IKADAR belum banyak dikenal luas. Dari data 167 anggota IKADAR, ditemukan perempuan lebih banyak dari laki-laki. Hanya 99 anggota yang dapat ditelusuri melalui telepon, Mayoritas bertempat tinggal di Jabotabek, 66 anggota berobat dengan biaya sendiri, 54% berkisar umur 5-10 tahun. Pengertian tentang penyakit DM ditemukan 22,2% belum mengerti penyakit maupun penanganan DM, namun sebagian besar pasien tersebut menyatakan IKADAR berperan bagi pengobatan.  [MKB.  2010;42(2):82-5].

Kata kunci: Diabetes melitus tipe 1, demografi, anak


Demography Study Diabetes Mellitus Type 1 of Diabetes Mellitus Family Member


Abstract

Diabetes mellitus (DM) is classified as a chronics disease due to its property of external insulin dependency. Intensive monitoring, as well as awareness and good understanding from the patients and their patients are prerequisite to achieve excellent result in the management this disease. Ikatan Keluarga Penyandang Diabetes Anak dan Remaja (IKADAR) is an association of DM patients together with their family which aims to facilitate the members to help and share each other. Unfortunately, IKADAR hasn't been widely known. Currently IKADAR has 167 members but only 99 members could be reached by telephone, the majority time in Jabotabek, sixty six had their medication paid out of pocket, fifty-four percent were 5-10 years of age. As many as 22.2% found to having no comprehensive understanding about DM and the management. The majority of patients suggest that IKADAR play a big role in their treatment. 
[MKB.  2010;42(2):82-85].

Key words: Type 1diabetes mellitus, demography, children
Last Updated on Wednesday, 11 August 2010 02:05
 
Pengaruh Radioterapi Eksternal Terhadap Fungsi Sel Rambut Luar Koklea Penderita Karsinoma Nasofaring PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 11 August 2010 01:59
Shinta Nurmasari,1 Dindy Samiadi,2 Bambang Purwanto2
Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung


Abstrak

Pilihan utama pengobatan karsinoma nasofaring adalah radioterapi. Pemberian radioterapi dosis tinggi menimbulkan kerusakan struktur jaringan, salah satunya adalah gangguan pendengaran. Gangguan di koklea timbul akibat kerusakan struktur sel rambut akibat degenerasi stria vaskularis, atrofi spiral ligamen, dan membran basilaris. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui fungsi sel rambut luar koklea akibat radioterapi penderita karsinoma nasofaring. Tipe penelitian adalah studi analitik observasional dan dilakukan di Bagian IK.THT-KL/RS. Hasan Sadikin Bandung mulai Maret sampai September 2007. Dilakukan pemeriksaan audiometri, timpanometri, dan emisi otoakustik (otoacoustic emission)/OAE sebelum radioterapi, serta pemeriksaan timpanometri serta OAE saat radioterapi dan satu bulan pascaradioterapi. Untuk menguji pengaruh radioterapi eksternal digunakan uji McNemar dan uji Z. Diperoleh 42 telinga dari 27 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Didapat 18 laki-laki dan 9 perempuan. Hasil penelitian menunjukkan insidens gangguan fungsi sel rambut luar koklea sebesar 9,6% pada dosis 2.000 cGy, 61,5% pada 4.000 cGy, 81,1% pada 6.600 cGy, dan 82,8% satu bulan pascaradiasi. Hubungan gangguan fungsi sel rambut luar koklea memberikan nilai sangat bermakna pada dosis 4.000 cGy sampai 6.600 cGy (p<0,001). Kesimpulan penelitian radioterapi eksternal penderita karsinoma nasofaring menyebabkan gangguan fungsi sel rambut luar koklea. [MKB.  2010;42(2):69-75].

Kata kunci:  Karsinoma nasofaring, radioterapi eksternal, sel rambut luar koklea


Effect of External Radiotherapy to Cochlear Outer Hair Cells Function on Nasopharyngeal Carcinoma Patients


Abstract

Radiotherapy is the main treatment of nasopharyngeal carcinoma. Exposure to high dose radiotherapy can cause damage to the surrounding tissue structure and hearing loss is one of it. Depraved cochlea is occur due to damaged outer hair cells (OHC) because of degeneration of striae vascularis, spiral ligament, and bacillar membrane atrophy. The purpose of this study was to understand the OHC's  function due to radiotherapy in nasopharyngeal carcinoma patients. The type of study was observational analytic study with prospective design to determine the influence of radiotherapy to the function of OHC in the department of  ENT-HNS Hasan Sadikin General Hospital Bandung and performed from March to September 2007. Pure tone audiometry examination, tympanometry, and otoacoustic emission (OAE) was performed before radiotherapy. Tympanometry and OAE was measured when radiotherapy performed and one month after radiotherapy. McNemar and Z test was performed to calculate the effects of radiotherapy to OHC. In this study 42 ears from 27 subjects that meet the inclusion criteria 18 men and 9 women. The result of this study showed that the prevalence of damaged OHC were 9.6%  at 2,000 cGy, 61.5% at 4,000 cGy, 81.1% at 6,600 cGy, and 82.8% after one month of radiotherapy. Damaged OHC's  function was significance at dose radiation exposure from 4,000 to 6,600 cGy (p<0.001). The conclusion of this study is radiotherapy can alter OHC's function in patients with nasopharyngeal carcinoma. [MKB.  2010;42(2):69-75].

Key words: Nasopharyngeal carcinoma, radiotherapy, cochlea's outer hair cells
 
« StartPrev12NextEnd »

Page 1 of 2