Kumpulan Artikel
SATU ABAD KULTUR SEL DAN JARINGAN: PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DAN IMPLEMENTASINYA PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 25 March 2009 22:25

Tri Hanggono Achmad
Bagian Biokimia, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

 

Tissue culture untuk memahami aspek mekanisme kontrol dan diferensiasi fungsi sel telah berkembang sejak satu abad yang lalu, melalui masa-masa pengembangan yang pada awalnya sederhana, diikuti fase perkembangan ekspansif pada pertengahan abad yang lalu, dan kini berada pada fase pengembangan. Perkembangan ilmu biologi molekuler menyebabkan sulitnya melihat batas pemisah antara biologi molekuler dan tissue culture. Saling bergantungnya perkembangan masing-masing teknologi ini, sukar untuk dinyatakan batas berhentinya teknologi tissue culture dan mulai berkembanganya teknologi biologi molekuler. Meskipun tantangan untuk mendapatkan sel-sel yang tumbuh secara in vitro telah terjawab dan diversitas jenis sel telah meningkat secara konstan, tissue culture kini sudah semakin populer dibanding sebelumnya. Untuk beberapa kalangan tissue culture menghadirkan peluang untuk mengurangi percobaan hewan yang tidak perlu, untuk kalangan lainnya teknologi tissue culture mendorong kemampuan untuk menghasilkan produk farmasi inovatif yang lebih ekonomis. Untuk beberapa kalangan tertentu teknologi ini masih menjadi dasar guna mengeksplorasi permasalahan regulasi sel dan pengembangan intervensi medis. Sangat jelas bahwa penelitian tentang aktivitas selular pada tissue culture akan membawa berbagai manfaat, meski demikian perhatian diperlukan terhadap berbagai kelemahan teknologi ini. Hal ini penting untuk membangun perhatian yang lebih besar guna pengembangannya di masa mendatang.

 

Kata kunci: Kultur jaringan, teknologi, perkembangan, implementasi

MKB Vol.40 No.3,2008


PENDAHULUAN

Kultur jaringan (tissue culture) pertama kali digunakan pada awal abad 20 sebagai suatu metode untuk mempelajari perilaku sel hewan yang bebas dari pengaruh variasi sistemik yang dapat timbul saat hewan dalam keadaan homeostasis ataupun dalam pengaruh percobaan atau perlakuan (experiment).1 Kultur jaringan bukanlah teknik yang baru. Teknologi ini telah berkembang sejak satu abad yang lalu, melalui masa-masa pengembangan yang pada awalnya sederhana, diikuti fase perkembangan ekspansif pada pertengahan abad yang lalu. Saat ini kultur jaringan berada pada fase pengembangan khusus untuk memahami aspek mekanisme kontrol dan diferensiasi fungsi sel. Kendati teknologi kultur jaringan kini telah berkembang begitu pesat, seperti kultur sel-sel khusus, chromosome painting, dan DNA fingerprinting, tetapi teknologi dasar yang awal dikembangkan, (teknik kultur primer, pasase serial, karakterisasi, preservasi sel, dan yang lainnya) prinsipnya masih sama.

Pada saat istilah kultur jaringan diperkenalkan, teknik ini pertama kali dikembangkan dengan menggunakan fragmen jaringan yang tidak terurai, dan pertumbuhan sel atau jaringan terjadi dengan bermigrasinya sel fragmen jaringan disertai adanya mitosis di luar pertumbuhan. Kultur sel dari jaringan explant primer seperti inilah yang mendominasi perkembangan teknik kultur jaringan pada lebih dari lima puluh tahun perkembangannya, sehingga tidaklah mengherankan jika istilah kultur jaringan sudah begitu melekat untuk pengembangan teknologi ini. Walaupun demikian, fakta yang terjadi pada saat percepatan perkembangan teknologi berikutnya pada era setelah tahun 1950 lebih didominasi oleh penggunaan kultur sel yang terurai dari jaringan.2

Selanjutnya istilah kultur jaringan digunakan sebagai istilah umum yang juga meliputi kultur organ ataupun kultur sel. Terminologi kultur organ lebih lazim digunakan untuk suatu kultur jaringan tiga dimensi yang tidak terurai dengan sebagian atau seluruh gambaran histologinya yang secara in vivo masih utuh. Istilah kultur sel digunakan untuk berbagai kultur yang berasal dari sel-sel yang terdispersi yang diambil dari jaringan asalnya, dari kultur primer, atau dari cell line atau cell strain secara enzimatik, mekanik, atau disagregasi kimiawi. Terminologi kultur histotypic akan diterapkan untuk jenis kultur jaringan yang menggabungkan kembali sel-sel yang telah terdispersi sedemikian rupa untuk membentuk kultur jaringan menyerupai struktur tiga dimensi. Misalnya pada perfusi atau pertumbuhan berlebih pada kultur monolayer, reagregasi pada suspensi sel, atau infiltrasi matriks tiga dimensi seperti penggunaan gel kolagen. Istilah kultur organotypic digunakan pada kultur dengan prosedur seperti di atas namun mengkombinasikan sel dari berbagai jenis yang berbeda, contohnya adalah keratosit epidermal yang dikombinasikan dengan mereagregasikan fibroblas dermal.

 

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KULTUR JARINGAN

Untuk mempelajari teknik dasar kultur jaringan diperlukan pemahaman dasar tentang anatomi, histologi, fisiologi sel, dan prinsip dasar biokimia. Perkembangan ilmu biologi molekular menyebabkan sulitnya melihat batas pemisah antara biologi molekular dan kultur jaringan. Saling bergantungnya perkembangan masing-masing teknologi ini sukar untuk dinyatakan batas berhentinya teknologi kultur jaringan dan mulai berkembangnya teknologi biologi molekular.

Perkembangan teknologi kultur jaringan kini banyak diarahkan untuk dapat memberikan simulasi proses biologis yang terjadi pada tubuh manusia, sehingga tidak hanya digunakan untuk mempelajari proses atau mekanisme yang terjadi pada sel, namun juga interaksi yang terjadi antara sel dan lingkungan yang dapat diatur menyerupai berbagai keadaan fisiologis ataupun patologis. Hal ini akan semakin mengatasi kelemahan teknologi kultur jaringan yang dianggap sebagai teknologi experiment in vitro, kendati menggunakan sel atau jaringan hidup, dibanding dengan penggunaan hewan percobaan yang dinilai sebagai experiment in vivo. Wilkes dkk.3 pada tahun 2007 mengembangkan suatu model bioreaktor untuk mengaplikasikan keadaan tekanan subatmosfer pada kultur sel tiga dimensi. Model ini dikembangkan dengan tujuan untuk mempelajari lebih baik mekanisme biologis proses penyembuhan luka dengan menggunakan teknik vacuum-assisted closure (VAC) negative pressure wound therapy (NPWT) yang telah secara luas berhasil digunakan. Pada bioreaktor ini digunakan analog jaringan tiga dimensi terdiri dari fibroblas yang mengandung bekuan fibrin yang dikultur pada cawan bertingkat. Cawan kultur ini mendapat perfusi medium yang diatur dengan kecepatan dan tingkat aliran serta tekanan sesuai keadaan jaringan terluka, yang secara skematis divisualisasikan pada Gambar 1. Model bioreaktor ini dapat diamati dengan menggunakan inverted microscope yang dilengkapi sistem fluoresensi dengan tekanan CO2 5%. Sistem tertutup yang digambarkan melalui model bioreaktor ini merupakan simulasi penyembuhan luka dengan menggunakan metode vacuum-assisted closure negative pressure wound therapy (VAC-NPWT). Pengembangan bioreaktor ini memanfaatkan teknologi microelectromechanical system (MEMS) yang telah lebih dahulu banyak dikembangkan sebagai perpaduan teknologi kultur jaringan dengan rekayasa material biologis.4

Skema Sistem Cawan Bioreaktor

Sejalan dengan perkembangan teknologi ini maka perkembangan berbagai referensi yang berkaitan dengan teknologi kultur jaringan banyak menyajikan berbagai teknologi khusus, sehingga perhatian terhadap prosedur dasar menjadi banyak terabaikan. Meski banyak berkembang referensi yang menyajikan teknologi baru, namun masih banyak referensi teknologi dasar yang tetap dipertahankan. Misalnya Puck dan Marcus5 melakukan kloning sel dengan teknik dilusi dan mengukuhkan metodenya yang kini secara rutin masih digunakan di banyak laboratorium. Lovelock dan Bishop6 mendemonstrasikan keunggulan dimetil sulfoksid (DMSO) untuk preservasi sel bekuan. Kedua teknologi ini belum tergantikan tanpa adanya modifikasi yang substansial.

Ilmu pengetahuan dan teknologi modern menjadi semakin bergantung pada teknologi canggih. Prosedur pewarnaan antibodi, ELISA, analisis probe molekular, pemeriksaan sitotoksisitas, dan yang lainnya, kini sudah tersedia dalam bentuk kit. Hal ini memungkinkan penilaian regulasi gena serta produk sel lebih cepat dan mudah kendati dengan biaya yang lebih mahal. Keuntungan berkembangnya berbagai kit ini adalah penghematan waktu dan meningkatkan produktivitas, meskipun demikian, bagi laboratorium dengan dana terbatas, hal ini akan menimbulkan masalah pembiayaan.

Pada aspek mekanisme, pemahaman mendasar pengorganisasian genom, pengaturan transkripsi gena, mekanisme intra dan ekstrasel dari kendali pertumbuhan, transduksi signal, dan dasar biologi serta spesifisitas interaksi sel, baik dalam bentuk signal yang termediasi maupun terdifusi, telah mencapai beberapa langkah kemajuan. Transformasi, yang awalnya merupakan masalah besar dalam stabilitas cell-line dan terkait dengan keganasan, kini memperlihatkan manfaat untuk imortalisasi terkontrol sebagai alat bernilai guna. Diperkenalkannya transformasi gen pada hewan transgenik memungkinkan dilakukannya isolasi cell lines dari berbagai jaringan yang telah mati namun masih memiliki fenotip.7

Area Penelitian Utama pada Kultur Jaringan

 

PERKEMBANGAN IMPLEMENTASI TEKNOLOGI KULTUR JARINGAN

Meskipun tantangan untuk mendapatkan sel-sel yang tumbuh secara in vitro telah terjawab dan diversitas jenis sel telah meningkat secara konstan, kultur jaringan kini sudah semakin populer dibanding sebelumnya. Untuk beberapa kalangan kultur jaringan menghadirkan peluang untuk mengurangi percobaan hewan yang tidak perlu. Untuk kalangan lainnya teknologi kultur jaringan mendorong kemampuan untuk menghasilkan produk farmasi inovatif yang lebih ekonomis. Untuk beberapa kalangan tertentu teknologi ini masih menjadi dasar guna mengeksplorasi permasalahan regulasi sel dan potensinya untuk pengembangan intervensi medis.

Linke dkk.8 dari Fraunhoffer Institute for Interfacial Engineering and Biotechnology mengembangkan model bioartificial liver secara in vitro dengan melakukan ko-kultur hepatosit dan sel endotel mikrovaskular. Model ini memungkinkan diperolehnya jaringan hati yang hidup dan berfungsi selama berminggu-minggu untuk dapat diamati sebagai sistem yang sangat berharga bagi penelitian dasar dan terapan. Perkembangan teknologi kultur jaringan juga telah dimanfaatkan untuk mempelajari peran leptin, suatu protein yang kini banyak dibicarakan kontribusinya pada patogenesis berbagai penyakit degeneratif.9 Dengan memanfaatkan teknologi kultur jaringan diketahui bahwa leptin pada babi berperan terhadap proliferasi dan diferensiasi sel-sel preadiposit untuk berkembang menjadi jaringan adiposit baru.

Salah satu aspek yang paling menarik dalam perkembangan terkini kultur jaringan adalah mengetahui apakah kultur jaringan menjadi teknologi yang dapat diterima pada area teknologi yang sebelumnya merupakan exploratory fringe. Kalangan industri telah menerima berbagai keuntungan, setidaknya untuk saat ini, dalam menghasilkan biofarmasetikal melalui kultur sel hewan,10 pengukuran in vitro untuk sitotoksisitas dan mutagenesis yang merupakan bagian standar repertoire toksikologi industri, pemeriksaan berbagai marka untuk menilai reaksi peradangan,11 penelitian yang mengungkapkan pengaruh hasil metabolisme terhadap berbagai marka biologis,12 serta kombinasi teknologi gena dan penggantian jaringan herald,13 suatu era yang kita pahami hanya merupakan fiksi ilmiah beberapa tahun yang lalu.

Sejak dikembangkannya Laboratorium Kultur Sel dan Jaringan di Unit Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran pada tahun 1997, hingga kini beberapa jenis kultur sel telah berhasil dikembangkan, antara lain kultur sel fibroblas. Kultur sel fibroblas diisolasi baik dari preputium maupun chick embryo, sel endotel yang diisolasi dari porcine aorta, sel otot jantung yang diisolasi dari mouse embryo, dan sel tiroid yang diisolasi dari jaringan tumor tiroid. Isolasi berbagai sel tadi dilakukan dengan menggunakan teknik dispersi enzimatik maupun mekanik. Pemanfaatan teknologi ini banyak membantu penyelesaian penelitian para peserta program pascasarjana maupun para peneliti yang memperoleh hibah penelitian dari berbagai sumber.

Kultur Berbagai Sel (perbesaran 100x) A. Sel Endotel Porcine Aorta. B. Sel Fibroblas Chick Embryo. C. Jaringan Tiroid. D. Sel Otot Jantung Mouse Embryo

Hal yang menarik dari pengembangan teknologi ini di Indonesia adalah tantangan mengatasi kontaminasi yang mendorong diterapkannya penggunaan antibiotik di luar standar yang umumnya digunakan atau diperkenalkan pada berbagai referensi atau industri penopang teknologi kultur jaringan. Selain tingkat kelembaban yang cenderung tinggi di Indonesia sebagai negeri tropis, perilaku mikroba yang berkembang di berbagai rumah sakit yang cenderung tidak lagi sensitif terhadap antimikroba generasi pertama, telah mendorong penggunaan berbagai antibiotik generasi lanjut. Misalnya golongan ciprofloxacin,14 untuk menggantikan gentamisin dan streptomisin sebagai antibiotik standar yang lazim digunakan pada berbagai referensi1,15 untuk menghambat pertumbuhan berbagai mikroba yang mungkin mengkontaminasi kultur.

 

KESIMPULAN

Kini kita memasuki tahap biologi sel dan molekular yang mana prospek manipulasi genom dan pengaturan produk ekspresinya melalui teknologi in vitro maupun dalam transplant menjadi hampir tanpa batas. Pertanyaan yang timbul adalah lebih pada aspek hukum dan etika daripada ilmiahnya. Dapatkah neuron seseorang ditransplantasikan pada individu lain,khususnya setelah melalui manipulasi genetik? Apakah etis menggunakan bahan fetus manusia untuk penelitian in vitro? Apakah sel-sel hasil transformasi genetik dapat digunakan untuk transplantasi normal gena kepada individu dengan gangguan genetik? Banyak sekali perdebatan muncul mengenai berbagai hal tersebut yang masih memerlukan penjelasan lebih lanjut melalui berbagai penelitian dan pengembangan kultur jaringan. Sangat jelas bahwa penelitian tentang aktivitas selular pada kultur jaringan akan memberi berbagai manfaat, meskipun demikian perhatian juga perlu diberikan terhadap berbagai kelemahan teknologi ini. Semua ini penting untuk membangun perhatian yang lebih besar terhadap perkembangannya di masa mendatang.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Freshney RI. Culture of animal cells: a manual of basic technique. Edisi ke-3. New York: John Wiley & Sons, Inc. Publication; 1994.
  2. Abercrombie M, Heaysman JEM. Observations on the social behaviour of cells in tissue culture, II. “Monolayering” of fibroblasts. Exp Cell Res. 1954;6:293-306.
  3. Wilkes RP, McNulty AK, Feeley TD, Schmidt MA, Kieswetter K. Bioreactor for application of subatmospheric pressure to three-dimensional cell culture. Tissue Eng. 2007;13(12):3003-10.
  4. Puleo CM, Yeh HC, Wang TH. Applications of MEMS technologies in tissue engineering. Tissue Eng. 2007;13(12):2839-54.
  5. Puck TT, Marcus PI. A rapid method for viable cell titration and clone production with HeLa cells in tissue culture. Proc Natl Acad Sci USA. 1955;41:432.
  6. Lovelock JE, Bishop MWH. Prevention of freezing damage to living cells by dimethyl sulphoxide. Nature. 1959;183:1394.
  7. Beddington R. Transgenic mutagenesis in the mouse. Trends Genetics. 1992;8:10.
  8. Linke K, Achanz J, Hansmann J, Walles T, Brunner H, Mertsching H. Engineered liver-like tissue on a capillarized matrix for applied research. Tissue Eng. 2007;13(11):2699-707.
  9. Ramsay TG. Porcine preadipocyte proliferation and differentiation: a role for leptin? J Anim Sci. 2005;83(9):2066-74.
  10. Cabric S, Sanchez J, Lundgren T, Foss A, Felldin M, Kallen R, et al. Islet surface heparinization prevents the instant blood-mediated inflammatory reaction in islet transplantation. Diabetes. 2007;56(8):2008-15.
  11. Gomperts BN, Kim LJ, Flaherty SA, Hackett BP. IL-13 regulates cilia loss and foxj1 expression in human airway epithelium. Am J Respir Cell Moll Biol. 2007;37:339-46.
  12. Achmad TH, Wintercheidt A, Lindemann C, Rao GS. Oxidized low density lipoprotein acts on endothelial cells in culture to enhance endothelin secretion and monocyte migration. Meth Find Exp Clin Pharmacol. 1997;19(3):153.
  13. Bajada S, Harrison PE, Ashton BA, Cassar-Pullicino VN, Ashammakhi N, Richardson JB. Successfully treatment of refractory tibial nonunion using calcium sulphate and bone marrow cell transplantation. J Bone Joint Surg. 2007;89:1382.
  14. Supriyadi R. Peningkatan produksi endothelin-1 (ET-1) dan pelepasan radikal bebas pada kultur kardiomiosit dalam keadaan hipoksia. Bandung: Universitas Padjadjaran;1999.
  15. Jones GE. Human cell culture protocols. Edisi ke-1. New Jersey: Humana Press Inc; 1996.
Last Updated on Monday, 16 November 2009 06:04
 
KADAR PEROKSIDA LIPID DAN AKTIVITAS SUPEROKSIDA DISMUTASE (SOD) TESTIS TIKUS YANG DIBERI TEPUNG KEDELAI KAYA ISOFLAVON, SENG (Zn), DAN VITAMIN E PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 29 January 2009 01:12

Sussi Astuti,1 Deddy Muchtadi,2 Made Astawan,2
Bambang Purwantara,3 Tutik Wresdiyati4

1Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung
2Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB
3Departemen Klinik, Reproduksi, dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, IPB
4Departemen Anatomi, Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan, IPB


Komponen bioaktif isoflavon yang terkandung dalam kedelai dapat meningkatkan status antioksidan. Seng (Zn) diperlukan untuk merangsang kerja enzim antioksidan, sedangkan vitamin E berperan sebagai antioksidan pemutus rantai untuk mencegah reaksi berantai radikal bebas. Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah tepung kedelai kaya isoflavon (TKI), seng sulfat (ZnSO4.7H2O) dan vitamin E (α-tokoferol asetat), sedangkan data yang diperoleh diolah dengan sidik ragam menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap kadar malondialdehida (MDA) dan aktivitas superoksida dismutase(SOD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung kedelai kaya isoflavon sebanyak 3 mg/ekor/hari dengan cara dicekok, serta Zn 6.14 mg/kg ransum dan vitamin E 100 mg/kg ransum selama 2 bulan mampu menurunkan kadar MDA testis (1.9 nmol/g) dan mempertahankan aktivitas SOD testis tetap tinggi (259.2 U/mL). Disimpulkan bahwa interaksi secara sinergis antara tepung kedelai kaya isoflavon, Zn, dan, vitamin E dapat menghambat pembentukan peroksidasi lipid pada spermatozoa dan meningkatkan status antioksidan testis.

Kata kunci: Tepung kedelai kaya isoflavon, seng (Zn), vitamin E, peroksida lipid, aktivitas SOD
MKB Vol.40 No.2,2008
Last Updated on Tuesday, 17 February 2009 04:45
 
RADIOFARMAKA PET DALAM KARDIOLOGI NUKLIR PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 29 January 2009 01:03

Nurlaila Zainuddin
Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri-BATAN


Positron emission tomography (PET) merupakan alat pencitraan yang dapat mengkuantisasi radionuklida pemancar positron yang terdapat di dalam tubuh melalui pengukuran foton anihilasi. Berbagai studi kardiovaskular in-vivo menggunakan radiofarmaka pemancar positron dapat dilakukan dengan kamera PET, di antaranya perfusi, metabolisme miokardium, evaluasi inervasi kardiak serta pencitraan molekular miokardium. Tinjauan ini membahas radiofarmaka PET yang dapat digunakan dalam bidang kardiologi, meliputi produksi radionuklida pemancar positron melalui siklotron dan sistem generator, sintesis senyawa bertanda dan pemurniannya serta pengawasan mutu. Selain itu diuraikan pula beberapa radiofarmaka yang dapat digunakan dalam bidang kardiologi. Dari uraian ini terlihat bahwa radiofarmaka pemancar positron mempunyai potensi yang sangat besar dalam mengungkap dan mengevaluasi perubahan fungsi dan biokimia kardiovaskular sampai ke tingkat sel atau molekular.


Kata kunci: Radiofarmaka pemancar positron, PET, kardiologi

MKB Vol.40 No.2,2008
Last Updated on Tuesday, 17 February 2009 04:45
 
TRAUMA KONDILUS PADA ANAK TANPA PENANGANAN OPTIMAL (Serial Kasus) PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 29 January 2009 01:00

Muhammad Ruslin,1 Asri Arumsari2
1 Peserta PPDGS Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG-UNPAD/ RSHS Bandung, Staf Bagian Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG-UNHAS Makassar
2 Staf Bagian Bedah Mulut FKG-UNPAD/RS. DR. Hasan Sadikin Bandung

Trauma dagu pada anak dapat mengakibatkan cedera pada kondilus. Trauma pada kondilus dimulai dengan robekan pada kapsul sendi, haemarthrosis, sampai terjadinya fraktur pada leher atau kepala kondilus. Penanganan yang tidak tepat atau berlebihan dapat menyebabkan ankilosis dan gangguan pertumbuhan pada mandibula. Kami melaporkan tiga kasus dengan riwayat trauma kondilus pada anak dengan perawatan yang tidak adequat sehingga terjadi ankilosis dan gangguan pertumbuhan pada mandibula. Penanganan trauma kondilus pada anak dapat dilakukan dengan perawatan yang sederhana yaitu dengan closed treatment.

Kata kunci: Komplikasi, trauma kondilus, anak, closed treatment
MKB Vol.40 No.2,2008
Last Updated on Tuesday, 17 February 2009 04:37
 
KESETARAAN PENGUKURAN ANALISIS GAS DARAH MELALUI ARTERI RADIALIS DAN KAPILER PADA ANAK SAKIT KRITIS PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 29 January 2009 00:58
Iva N Fitrya, Ponpon S Idjradinata, Dzulfikar DLH
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran / RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung


Analisis gas darah (AGD) merupakan pemeriksaan penting untuk penderita sakit kritis. Ada beberapa lokasi dan teknik yang dapat menjadi alternatif untuk pengambilan sampel AGD dengan segala kelebihan dan kekurangannya termasuk arteri, vena dan kapiler. Sampai saat ini pengambilan darah dari arteri masih menjadi pilihan utama dalam AGD walaupun diketahui banyak komplikasinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesetaraan pengukuran AGD melalui artieri radialis kapiler. Penelitian ini merupakan penelitian observasional yang dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2006 di PICU, ruang gawat darurat, dan ruang rawat inap anak RS. Hasan Sadikin. Subjek penelitian terdiri dari penderita sakit kritis berusia > 28 hari – 14 tahun yang memerlukan AGD dan tidak mengalami gangguan perfusi perifer, hipotensi, dan hipotermia. Hasil penelitian dianalisis dengan Bland and Altman statistical method for assessing agreement between two methods of measurement. Selama periode penelitian didapatkan 30 subjek penelitian di antaranya25 anak laki-laki (83%), dan 5 anak perempuan (17%). Usia rata-rata penderita 3 tahun. Penyakit yang mendasarinya paling banyak adalah bronkopnemonia (43%) diikuti sepsis (23%). Berdasarkan analisis korelasi dengan metode Pearson didapatkan hubungan yang kuat antara pemeriksaan arteri dan kapiler pada seluruh nilai yang diukur pada AGD (pH, pCO2, pO2, HCO3, BE, Sat O2) dengan nilai secara berurutan = 0,928; 0,972; 0,934; 0,933; 0,948; 0,978. Untuk analisis kesetaraan dengan metode Bland dan Altmandidapatkan kesertaraan antara kedua pemeriksaan pada seluruh nilai yang diukur pada AGD dengan limits of agreement secara berurutan = - 0,088 dan +0,06; - 5,722 dan + 3,342; -23,98 dan + 2,459; -4,163 dan + 2,649; -9,801 dan + 8,835. Pada penelitian ini terdapat kesetaraan pengukuran AGD pada pengambilan sampel dari a. radialis dengan kapiler.

Kata kunci: Analis gas darah, arteri, kapiler, metode Bland dan Altman

MKB Vol.40 No.2,2008

Last Updated on Tuesday, 17 February 2009 04:45
 
« StartPrev11121314151617181920NextEnd »

Page 14 of 48