Kumpulan Artikel
ANALISIS PENGEMBANGAN POLA KARIR PERAWAT KLINIK DI RUMAH SAKIT UMUM KABUPATEN TANGERANG PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 27 January 2009 07:18
Winny Kho,1 Wiku Adisasmito2
1Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang
2Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia


Perawat klinik di RSU Kabupaten Tangerang terbagi menjadi perawat dengan status Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan perawat Tenaga Kerja Kontrak (TKK). Jenjang karir perawat klinik di RSU Tangerang didasarkan pada sistem skoring yang menilai status kepegawaian, pendidikan, pengalaman ruangan, sertifikasi pelatihan, namun pelaksanaan sistem jenjang karir bagi seluruh perawat tersebut masih belum optimal. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan menganalisis pengembangan pola karir perawat klinik di RSUD Tangerang. Penelitian dilakukan pada bulan Februari-April 2006. Pengumpulan data terbagi menjadi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara mendalam (indepth interview) dan diskusi grup terarah (Focus Group Discussion). Informan wawancara mendalam adalah 4 orang, yaitu dua orang wakil direktur, satu orang kepala bidang, dan satu orang kepala instalasi, sedangkan informan FGD sebanyai 21 orang perawat klinik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di RSUD Tangerang masih terdapat perawat yang berpendidikan SPK. Terdapat 45,2% perawat yang belum mendapat kesempatan pelatihan. Kesempatan pelatihan terbanyak diberikan untuk perawat PNS. Direkomendasikan pola karir perawat klinik RSU Kabupaten Tangerang didasarkan atas latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, pelatihan, dan status kepegawaian. Perbedaan status perawat mempengaruhi kesempatan memperoleh pendidikan dan pelatihan.
 
Kata kunci: Pola karir, perawat klinik
 
MKB Vol. 39 No. 4, 2007 
Last Updated on Thursday, 10 December 2009 02:06
 
ONKOGEN HER2/NEU DAN TERAPI TARGET PADA KANKER PAYUDARA PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 27 January 2009 07:17
Ismet M. Nur, Muhartono
Bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran / RSUP dr Hasan Sadikin Bandung

Onkogen HER-2/neu menyandikan 185kDa reseptor transmembran yang homolog dengan anggota famili receptor tyrosine kinase kelas I lainnya. Overekspresi atau amplifikasi HER-2/neu terjadi kurang lebih pada 25-30% kanker payudara dan dihubungkan dengan prognosis buruk. Pengaktifan fosforilasi tirosin berperan dalam pengaktivan jalur signal transduksi melalui ras/MAPkinase, phosphatidylinositol 3-kinase, dan phospholipase C-?. Jalur transduksi sinyal HER-2/neu pada akhirnya menuju inti dan ekspresi bermacam-macam gen diinduksi setelah aktivasi reseptor. Pengertian lebih lengkap mengenai jalur sinyal tranduksi HER-2/neu memudahkan pemahaman terapi trastuzumab yang saat ini dikembangkan sebagai terapi target kanker payudara.

Kata kunci: HER-2/neu, receptor tyrosine kinase, trastuzumab
MKB Vol.39 No.4,2007
 
HIPOADIPONEKTINEMIA DAN FAKTOR RISIKO KARDIOVASKULAR PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 27 January 2009 07:15
M. Taha Albaar, Fabiola MS Adam, John MF Adam
Pusat Diabetes dan Lipid, Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo, Divisi Endokrin dan Metabolik, Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar

Adiponektin diketahui sebagai suatu adipositokin yang bersifat antiinflamasi. Kadar adiponektin yang rendah dihubungkan dengan meningkatnya prevalensi penyakit arteri koroner. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor risiko kardiovaskular pada orang dengan kadar adiponektin serum rendah. Subjek adalah penderita obes yang tidak pernah menderita penyakit kardiovaskular maupun diabetes melitus. Pada semua subjek dilakukan pemeriksaan fisis lengkap termasuk indeks massa tubuh (IMT), lingkar pinggang, dan tekanan darah. Setelah berpuasa 12 jam malam sebelumnya, diambil contoh darah untuk pemeriksaan glukosa plasma, insulin puasa, profil lipid lengkap, dan adiponektin. Kadar adiponektin serum dibagi atas empat kelompok/kuartil, dan kuartil ke satu dianggap sebagai hipoadiponektinemia. Parameter faktor risiko kardiovasular penderita hipoadiponektinemia dan adiponektin normal dibandingkan. Uji statistik dilakukan dengan perangkat SPSS for Windows version 11.5, independent samples t-test digunakan untuk melihat perbedaan antara kedua kelompok. Uji One Way Anova dan Least Significant Difference (LSD) test untuk membandingkan parameter faktor risiko kardiovaskular antara keempat kuartil. Subjek penelitian adalah 172 orang, 43 subjek tergolong hipoadiponektinaemia kuartil I (kadar adiponektin antara 1,67-6,01 ng/mL), 129 subjek memiliki kadar adiponektin normal (kuartil II, III, IV). IMT, glukosa plasma darah, dan tekanan darah sistolik pada penderita hipoadiponektinemia dibandingkan denga yang normal berturut-turut adalah sebagai berikut: (29,23    ±4,80) dan 26,33    ±4,34 lg/m2 (P=0,001), 145,67    ±19,51 DAN 137,26    ±20,66 mmHg (P=0,018), 164,37    ±74,58 dan 120, 47    ±49,12 mg/dL (p<0,001). Kadar HDL pada penderita hipoadiponektinemia adalah 38,03    ±8,28 dibandingkan 48,25    ±18,21 mg/dL pada yang normal (p=0,0001). Hasil uji dengan One Way Anoval/LSD test menunjukkan perbedaan bermakna antara keempat kuartil. Kesimpulan penelitian ini adalah subjek hipoadiponektinemia mempunyai parameter faktor risiko kardiovaskular yang lebih buruh dapat dipakai sebagai faktor prediksi penyakit kadiovaskular.
 
Kata kunci: Kdar adiponektin, resistensi insulin, penyakit arteri koroner
 
MKB Vol. 39 No.4, 2007 
Last Updated on Thursday, 10 December 2009 02:03
 
ANALISIS KETEPATAN DIAGNOSIS DAN PEMBERIAN JENIS OBAT PADA BALITA SAKIT ISPA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT (MTBS) DI PUSKESMAS KOTA BANDUNG PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 27 January 2009 07:13
Sharon Gondodiputro, Henni Djuhaeni
Bagian Unit Penelitian Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung

Setiap tahun lebih dari 10 juta balita di negara berkembang meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun. Penyebab kematian ini pada umumnya dapat dicegah. Dengan terbatasnya sumber daya di negara berkembang, maka sejak tahun 1994, WHO dan UNICEF mengembangkan program Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) atau Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dalam mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi ketepatan diagnosis dan penggunaan obat-obatan pada ISPA balita kasus baru secara efektif dan efisien  di puskesmas yang telah dilatih MTBS dibandingkan dengan puskesmas yang belum dilatih MTBS. Suati studi cross-sectional bersifat analitik dilakukan pada 184 kasus balita ISPA. Hasilnya adalah terdapat perbedaan signifikan dalam ketepatan diagnosis dan penggunaan obat (p=0,000; <0,05). Di puskesmas yang sudah di latih MTBS, dari seluruh kasus barus ISPA, senanyak 40.2% dapat dideteksi sebagai kasus pneumonia, sedangkan di latih MTBS memberikan 1-2 jenis obat, sedangkan di puskesmas yang belum dilatih MTBS memberikan 4-5 jenis obat. Kedua hal tersebut membuktikan bahwa program MTBS di pelayanan kesehatan primer (puskesmas) sangat efisien dan efektik, sehingga disarankan bahwa seluruh puskesmas yang ada sebaiknya dilatih untuk melaksanakan program MTBS.
 
Kata kunci: MTBS, ketepatan diagnosis, efisiensi obat
 
 
MKB Vol. 39 No.4, 2007 
Last Updated on Thursday, 10 December 2009 01:53
 
HUBUNGAN ANTARA ASUHAN MAKAN BAYI DAN PERTUMBUHAN ANAK PADA USIA 2 TAHUN DI DAERAH KUMUH PERKOTAAN BANDUNG PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 27 January 2009 07:11
Julistio Djais
Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakutas Kedokteran Universitas Padjadjaran / Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung

Anak yang tinggal di daerah kumuh perkotaan berisiko tidak tumbuh secara optimal untuk menjadi dewasa dengan kualitas hidup yang baik. Indikator penting adalah keberhasilan tumbuh tanpa gangguan pada 2 tahun pertama. Penelitian ini bertujuan menilai pengaruh asuhan makan bayi yang mencakup pemberian ASI eksklusif pada 4 bulan pertama, jenis MP-ASI, peran ibu sebagai pemberi makan dan cara pemberian makan terhadap kejadian gangguan tumbuh linIer (stunted) pada anak setelah usia 2 tahun yang tinggal di daerah kumuh perkotaan Bandung. Di awal tahun 2006 dilakukan penelitian cross sectional pada balita usia 24-36 tahun yang tinggal di daerah kumuh perkotaan kelurahan babakan Surabaya, kecamatan Kiaracondong Bandung. Kriteria inklusi: kelahiran tunggal, cukup bulan, berat badan lahir > 2.500 gram, tidak menderita cacat bawaan, penyakit kronik dan sejak lahir tinggal di lokasi penelitian. Diteliti 375 balita (53,6% laki dan 46,4% perempuan). Prevalensi stunted adalah 34,7%, terdapat pengaruh yang bermakna pemberian ASI eksklusif dan jenis MP-ASI terhadap pencegahan kejadian stunted dengan odd ratio dan 95% CI masing-masing 0,47 (0,280,78), sedang peran ibu dan cara pemberian makan di daerah ini tidak memperlihatkan hasil yang bermakna. Pentingnya memotivasi ibu yang berada di lingkungan kumuh perkotaan untuk memberikan ASI eksklusif dan penyuluhan pembuatan makanan bayi yang berkualitas agar dapat mengurangi risiko stunted di saat pertumbuhan kritis 2 tahun pertama kehidupannya.
 
Kata kunci: ASI eksklusif, MPASI, stunted
 
MKB Vol. 39 No.4, 2007 
Last Updated on Thursday, 10 December 2009 01:44
 
« StartPrev11121314151617181920NextEnd »

Page 17 of 48